Connection Surface
publisher
Search Blog
Hit enter to search or ESC to close
Trending Now
SLIPI SHOULD BE
- Get link
- X
- Other Apps
Jalan Panjang: A skateboard travelogue documentary series - CHAPTER 1 (INTRODUCTION)
- Get link
- X
- Other Apps
CLICKBITE: Sebuah Perayaan Energi dari 22 skateboarders video by Ikram Irhamna
- Get link
- X
- Other Apps
Tentang bagaimana kolektif di pinggir kota terus menjaga ruang yang membuat kultur tetap hidup.
Tidak semua hal yang penting terjadi di tengah kota. Kadang, justru yang paling jujur tumbuh beberapa kilometer menjauh dari pusat keramaian. Di sebuah coffee shop sederhana di kawasan Cilangsana, Bogor, suara ampli kembali dinyalakan. Orang-orang datang membawa kaus band favoritnya, beberapa saling berpelukan setelah lama tidak bertemu, sebagian lagi berdiri di depan meja merchandise sebelum musik bahkan dimulai.
Malam itu bukan tentang menjadi acara hardcore terbesar. Tidak ada panggung megah, layar LED, atau daftar sponsor yang memenuhi backdrop. Yang ada hanyalah sekelompok orang yang percaya bahwa sebuah ruang layak diciptakan agar musik, persahabatan, dan komunitas tetap memiliki tempat untuk bertemu.
Acara itu bernama Split Harder.
Digagas oleh Noirlab Collective bersama Crushblow, Split Harder menghadirkan HONEY, END IN PAIN, UNDER NEGATIVE MIND, TELLY BLUE, dan ZEAL dalam satu malam yang terasa lebih seperti pertemuan keluarga daripada sebuah konser.
Yang menarik, rasanya bukan sekadar karena line-up yang solid. Ada sesuatu yang lebih besar yang terasa sejak pertama kali memasuki venue. Di poster acara tertulis satu kalimat sederhana.
Support the bands. Respect the space.
Kalimat itu mungkin terdengar seperti pengingat biasa. Tetapi semakin lama berada di sana, semakin terasa bahwa itulah fondasi seluruh acara, Semua orang datang dengan kesadaran yang sama.
Band datang lebih awal, panitia masih mengangkat perlengkapan sendiri, meja merchandise atau ticketing dijaga langsung oleh teman-teman mereka.
Tidak ada pembatas yang menciptakan jarak antara musisi dan penonton. Setelah turun panggung, mereka kembali bercampur dengan orang-orang yang beberapa menit sebelumnya ikut bernyanyi di depan mereka.
Di sinilah kultur independen terasa berbeda ia tidak dibangun oleh panggung namun ia dibangun oleh kedekatan. Melihat suasana malam itu, sulit rasanya untuk tidak mengingat skateboarding.
Di dunia skateboard kita mengenal local contest, DIY spot, hingga acara yang dibangun secara gotong royong oleh komunitas. Tidak selalu sempurna. Tidak selalu mewah. Tetapi justru dari ruang-ruang seperti itulah banyak cerita lahir.
Hardcore memiliki cara yang hampir sama, mereka membangun ruangnya sendiri mereka menjaga ruangnya sendiri dan mereka mengisinya bersama-sama.
Yang membuat malam itu semakin menarik adalah komposisi band yang hadir. Ada nama yang sudah memiliki basis pendengar besar seperti HONEY, ada band yang sudah lama menjadi bagian dari skena hardcore Jakarta seperti END IN PAIN, hingga nama-nama lain yang terus berkembang. Tidak ada kesan bahwa satu nama lebih penting dari yang lain. Semua berbagi panggung yang sama. Semua mendapat ruang yang sama.
Mungkin memang begitulah seharusnya sebuah komunitas bekerja. Yang lebih dulu membuka jalan yang baru mendapat kesempatan dan yang lama tetap kembali.
Di tengah situasi ketika banyak acara musik berlomba menjadi semakin besar, semakin mahal, dan semakin bergantung pada sponsor, acara seperti Split Harder justru mengingatkan bahwa kekuatan sebuah kultur tidak selalu diukur dari jumlah penonton atau ukuran panggungnya.
Kadang ukurannya jauh lebih sederhana, masih adakah orang yang rela meluangkan waktunya untuk membuat acara seperti ini? Masih adakah band yang mau bermain bukan demi angka? Masih adakah penonton yang datang bukan hanya untuk merekam video, tetapi benar-benar hadir?
Selama jawabannya masih "ada", mungkin kultur independen tidak perlu terlalu khawatir. Malam itu kami pulang tanpa membawa banyak foto sempurna, tidak ada lighting spektakuler tidak ada produksi yang mewah, yang kami bawa pulang justru sesuatu yang jauh lebih sulit didokumentasikan.
Perasaan bahwa di pinggir kota, di sebuah ruang sederhana, semangat kolektif masih bekerja seperti dulu dan mungkin, selama masih ada orang-orang yang terus menciptakan ruang seperti ini, hardcore tidak pernah benar-benar kehilangan rumahnya.
Akhir kata: Sebuah kultur tidak bertahan karena panggung yang megah. Ia bertahan karena selalu ada orang yang bersedia membuka pintu, menyalakan amplifier, dan berkata, "Masuk saja, malam ini ruang ini milik kita bersama."
You May Also Like
MAIN PAGE a video by VAST Attitude
- Get link
- X
- Other Apps
BEAZT Present "SAMBATAN" Sulistumo Part a Video by Bramantyabayu
- Get link
- X
- Other Apps
HN85 a video by Mazini Hafizhuddin
- Get link
- X
- Other Apps
METAMORPHOSIS a skateboard video part by Teklanica
- Get link
- X
- Other Apps






Comments
Post a Comment