Fotografi skateboard di antara digital, analog, dan kesediaan untuk hadir.

 


Interview bersama Boris Yoga / __okahhh 

 

Boris Yoga tinggal dan bekerja di Jakarta. Ia memotret skateboard dengan pendekatan yang tidak pernah terburu-buru, berpindah antara medium digital dan analog. Gear yang ia gunakan hari ini adalah Sony A7R II dan Nikon F3—dua kamera dengan ritme yang sangat berbeda, namun justru memperjelas cara pandangnya terhadap momen, proses, dan kehadiran.

Alih-alih datang dari ambisi menjadi fotografer skate, Yoga berada di balik kamera karena kebetulan. Kamera selalu ikut ke mana pun ia pergi—termasuk saat bermain skateboard atau sekadar mengecek spot. Dari situ, fotografi tumbuh pelan-pelan: dari suasana jalanan, nongkrong bersama teman, hingga akhirnya memotret trick. Tidak ada batas kaku antara mana yang “layak” difoto dan mana yang tidak. Selama ada rasa ingin menangkapnya, kamera akan bekerja.

 



1. Kapan dan dari titik mana lo mulai memotret skateboarding? Bukan momen pentingnya, tapi apa yang bikin lo milih berada di balik kamera.

 
Sebenernya gue nggak ngerasa milih sih. Awalnya karena kebetulan aja. Gue punya kamera dan lagi sering-seringnya motret, jadi ke mana pun gue pergi selalu gue bawa, termasuk pas main skate atau sekadar cek spot.

 

Dimas - Sadiq

 

 


2. Apa yang biasanya lo cari ketika memotret skateboarding: trick, momen, atau suasana?

 
Kalau lagi ada proyek, biasanya fokus ke trick. Tapi kalau disuruh milih, ya semuanya: trick, momen, dan suasana. Kalau bisa dapet ketiganya dalam satu frame, menurut gue itu lebih bagus.

 

Awalnya gue cuma motret suasana di jalan, lalu motret teman-teman pas lagi nongkrong atau cek spot. Lama-lama baru nyoba motret trick. Sekarang, kalau gue bawa kamera, gue potret aja apa yang pengen gue potret—nggak harus trick. Tapi tetap lihat-lihat orangnya juga, karena nggak semua orang nyaman dipotret, apalagi pas lagi off-guard.

 


 


 Arqi - Mike

 


3. Menurut lo, apa yang membedakan fotografi skateboard dengan fotografi lain—termasuk street atau human interest?

 
Menurut gue, skate photography emang ditujukan buat mengabadikan aksi skate supaya skater dan skateboarding kelihatan makin keren. Entah itu buat kebutuhan promosi, iklan, atau buat menonjolkan skater, trick, dan spot-nya. Karena tanpa fotografi pun, skateboarding sebenernya udah keren.

 

Alief Yudha

 

 


4. Lo dikenal masih menggunakan kamera analog. Apa yang bikin medium itu masih lo pilih sampai sekarang?

 
Awalnya gue juga nggak milih. Kebetulan gue punya kamera peninggalan keluarga, Nikon F3 dan Ricoh 500GX. Kameranya gue reparasi, terus mulai motret, lama-lama ngulik dan keterusan. Dari situ gue sadar kalau kamera analog nggak cuma ngasah skill fotografi dan jadi pondasi teknis, tapi juga berdampak secara mental ke gue sebagai individu.

 

Waktu motret pakai analog, gue dituntut buat benar-benar hadir. Mulai dari nentuin apa yang mau gue foto, sudutnya gimana, apa yang mau ditonjolkan, ngatur exposure, nunggu momen, lihat dari viewfinder, atur fokus, sambil berusaha tetap tenang dan ngadepin kecemasan di kepala.

 




 

 

Kecemasan itu macam-macam: soal setting, soal subjek, kondisi sekitar, apakah kehadiran gue mengganggu orang lain, sampai mikir hasilnya nanti bakal sesuai harapan atau nggak. Proses itu terus diulang sampai satu roll film habis.

 

Tapi yang paling bikin gue terus pakai analog, selain karena kameranya sudah ada, adalah proses nunggu hasilnya. Kita benar-benar diminta sabar dan mendedikasikan waktu ke proses sampai akhirnya lihat hasilnya. Jadinya gue lebih menghargai hasil foto, terlepas dari bagus atau nggaknya.

 

 

Andhika

 

Di zaman yang serba cepat, proses kayak gini menurut gue mewah banget. Hasil kamera analog juga sering bikin gue lebih membumi—ngingetin kalau setting bisa salah, hasil nggak selalu sesuai bayangan, dan foto yang dikira bakal bagus ternyata biasa aja. Tapi dari situ gue jadi lebih humble, termotivasi buat belajar lagi, coba sudut pandang baru, dan nggak takut keluar dari zona nyaman.

 


5. Dalam proses memotret, apa tantangan paling kerasa ketika lo pakai analog dibanding digital?

 
Sebenernya jawaban sebelumnya udah cukup ngejelasin. Tapi tantangan utamanya memang di keterbatasan. Mau nggak mau, semua harus dikalkulasi sebelum motret, apalagi kalau pakai flash off-shoe atau strobe. Ribet, dan hasilnya belum tentu sesuai harapan.

 

Tapi justru karena itu, motret jadi lebih tenang. Buat street photography, gue masih lebih milih analog. Feel-nya beda. Semakin sering pakai analog, gue jadi makin percaya sama diri sendiri. Kadang cuma nunggu di satu spot lama, dan cuma dapet satu foto—dan itu nggak masalah. Nggak ada layar buat ngecek hasil, jadi ya tinggal lanjut aja.

 

Sadiq

 

 


6. Di era skateboarding yang makin cepat dan berbasis video, gimana lo melihat posisi fotografi hari ini?

 
Menurut gue, fotografi akan selalu jadi opsi buat mengabadikan sesuatu. Entah itu trick, skater, produk, atau suasana. Fotografi bikin orang fokus ke satu momen dalam satu frame—entah itu aksi atau emosi yang pengen ditonjolkan. Kalau mau lihat cerita lengkapnya, ya tinggal tonton videonya yang isinya ribuan frame itu. Kayak video di YouTube, tetap butuh thumbnail foto buat mewakili isinya. 

 

Kaysan

 

 


7. Selain skate, lo juga sering memotret street / human interest. Apakah itu memengaruhi cara lo memotret skateboarder?

 
Sedikit banyak iya. Misalnya dari komposisi, atau dari ketertarikan gue ke ekspresi manusia yang nggak dibuat-buat. Kayak pas lagi lihat spot, pas jatuh, pas habis landing, atau pas lihat hasil foto di kamera. Momen-momen kayak gitu sering kebawa juga ke foto skate.

 


 

 


8. Ada nggak momen yang menurut lo penting secara personal, tapi nggak pernah lo publikasikan?

 
Menurut gue, semua hasil jepretan gue itu penting secara personal. Mau hasilnya bagus atau jelek, kebakar, blur, nggak fokus—semuanya gue simpan dan sering gue lihat lagi.

 

Gue jarang memublikasikan foto karena menurut gue publikasi itu bagian dari proses akhir. Cara kita menampilkan foto—entah di feed Instagram, story, zine, website, atau cetak besar—sangat mempengaruhi cara orang memaknainya. Sampai sekarang gue belum nemu medium yang tepat, tapi kalau nggak dipublikasikan juga nggak masalah buat gue.

 

Fahryan - Merrman



 

 


9. Ketika lo melihat kembali foto-foto lo beberapa tahun ke belakang, hal apa yang paling terasa berubah—di skateboarding atau di diri lo sendiri?

 
Kalau di diri gue sendiri, jujur gue nggak terlalu ngerasa ada perubahan. Mungkin karena gue juga belum terlalu lama serius di fotografi. Soal foto, jumlahnya juga belum banyak.

 

Justru menurut gue, orang lain atau kurator lebih bisa menilai perubahan itu karena mereka lihat tanpa tendensi. Kalau skateboarding, gue ngerasa makin lama makin beragam. Variasi makin banyak, perbedaan gaya makin diterima, individual video part makin rame—kadang malah kewalahan ngikutinnya.

 


 

 


10. Terakhir, ngeliat skateboarding hari ini, menurut lo sejauh apa skate photography akan bertahan?

 
Menurut gue, skate photography akan selalu punya tempat khusus di skateboarding. Pasti pernah lihat foto di majalah atau Instagram yang kelihatan keren banget, lalu nemu videonya dan ngerasa fotonya nggak kalah—bahkan kadang lebih dramatis.

 


 

 

Itu tujuan skate photography menurut gue, dan itu yang bikin dia selalu relevan. Selama skateboarding ada, kebutuhan buat mengabadikannya dalam satu frame akan selalu ada. Apalagi sekarang majalah dan zine—termasuk yang lokal—mulai banyak bermunculan lagi. Pengalaman baca versi cetak itu rasanya beda, dan menurut gue masih punya tempat.

 --------

 

Fotografi skateboard, lewat cerita Yoga, terasa bukan sebagai alat pembuktian, tapi sebagai ruang untuk hadir. Ia tidak selalu tentang hasil terbaik, momen paling ekstrem, atau publikasi paling ramai. Kadang ia hanya tentang menunggu, memperhatikan, dan menyimpan sesuatu untuk diri sendiri. Di tengah skateboarding yang bergerak cepat dan penuh sorotan, satu frame yang lahir dari kesabaran justru mengingatkan bahwa tidak semua hal harus segera dibagikan. Beberapa cukup untuk dipahami, dijaga, dan diingat—pelan-pelan. 

 


 

Comments