Ketika Skateboarding Dijadikan Komoditas: Industri Besar, Kapital, dan Eksploitasi Budaya Skate di Indonesia


 

 

Jika dulu skateboarding tumbuh dari trotoar, halaman parkiran, dan ruang kota yang diambil alih secara organik oleh anak muda, hari ini skateboard sering muncul di tempat yang jauh berbeda: etalase brand besar, kampanye iklan korporat, hingga presentasi strategi marketing.

Fenomena ini bukan cuma terjadi di luar negeri. Di Indonesia, masuknya industri dari luar skateboarding—mulai dari fashion non-skate, lifestyle brand, sampai korporasi besar—perlahan mengubah cara skateboarding dilihat, dijual, dan dikonsumsi.

Pertanyaannya bukan lagi “apakah skateboarding jadi populer?”, tapi siapa yang diuntungkan, dan siapa yang pelan-pelan tersingkir?


Dari Subkultur ke Alat Jualan

Skateboarding sejak awal adalah subkultur. Ia lahir dari sikap do-it-yourself, resistensi terhadap aturan, dan kebebasan menafsirkan ruang kota. Tidak ada standar baku, tidak ada otoritas tunggal. Semua tumbuh dari komunitas.

Ketika industri besar masuk, yang pertama diambil biasanya adalah estetikanya: papan skateboard, sepatu usang, trik di handrail, visual jalanan yang "liar" tapi aman untuk iklan. Yang sering tertinggal adalah nilai dan konteks sosialnya.

Skate menjadi bahasa visual yang menjual: muda, rebel, autentik. Padahal, autentisitas itu dibangun bertahun-tahun oleh komunitas—bukan oleh budget marketing.


Masuknya Industri Luar: Antara Validasi dan Eksploitasi

Tidak bisa dipungkiri, ketika brand besar melirik skateboarding, ada rasa "diakui". Skate bukan lagi aktivitas pinggiran. Ia dilihat, diundang, dan dipakai.

Namun di titik inilah batas tipis antara apresiasi dan eksploitasi sering kabur.

Eksploitasi terjadi ketika:

  • Skate hanya dijadikan gimmick visual tanpa dukungan ke komunitas

  • Brand mengambil citra rebel tapi tetap bermain aman secara komersial

  • Skater lokal hanya dijadikan properti konten, bukan subjek yang punya suara

  • Tidak ada investasi balik ke skateshop, skatepark, atau ekosistem lokal

Di Indonesia, ini terasa semakin kontras karena ekosistem skate masih rapuh. Banyak skateshop bertahan dengan margin tipis, event berjalan swadaya, dan brand lokal berjuang melawan produk massal murah.


Dampak Nyata ke Skena Lokal

Masuknya industri non-skate membawa efek domino:

1. Pergeseran Persepsi Konsumen

Produk dari luar skateboarding sering dianggap lebih "legit" karena branding besar, meskipun secara kualitas dan keterkaitan budaya justru minim.

2. Tekanan ke Brand Lokal

Brand skate lokal dipaksa bersaing bukan hanya soal harga, tapi juga soal visibility dan kapital. Yang kalah bukan karena ide buruk, tapi karena sumber daya terbatas.

3. Budaya Jadi Aksesoris

Skate tidak lagi dipahami sebagai praktik budaya, tapi sekadar gaya. Dipakai saat tren naik, ditinggal saat hype turun.


Indonesia: Pasar atau Komunitas?

Masalah terbesar di Indonesia bukan masuknya brand luar itu sendiri, tapi cara mereka masuk.

Banyak yang melihat Indonesia hanya sebagai pasar:

  • Populasi besar

  • Anak muda banyak

  • Budaya street terlihat "eksotis"

Yang jarang dilihat adalah:

  • sejarah lokal skateboarding

  • perjuangan komunitas membangun skena tanpa dukungan

  • konteks sosial dan ekonomi skater Indonesia

Ketika skate hanya dibaca sebagai potensi market, maka yang terjadi adalah ekstraksi—bukan kolaborasi.


Semestinya Skateboarding Perlu Dilindungi, Bukan Dipagari

Saya tidak percaya bahwa skateboarding harus anti industri. Tapi saya juga tidak percaya bahwa semua bentuk keterlibatan industri itu sehat.

Yang dibutuhkan adalah kesadaran arah.

Industri boleh masuk, selama:

  • Menghormati struktur komunitas yang sudah ada

  • Memberi ruang pada skater lokal untuk berbicara dan menentukan narasi

  • Berkontribusi nyata, bukan simbolik

  • Tidak mematikan ekosistem kecil demi exposure besar

Skateboarding tidak perlu dijaga dengan pagar eksklusif, tapi perlu dilindungi dari eksploitasi yang mengosongkan maknanya.


Peran Konsumen dan Komunitas

Di tengah kondisi ini, peran konsumen dan komunitas jadi krusial.

Memilih brand bukan cuma soal desain atau harga, tapi soal:

  • siapa yang mereka dukung

  • cerita apa yang mereka bawa

  • dan ke mana uang itu kembali

Karena setiap pembelian adalah sikap. Setiap pilihan adalah posisi.


Siapa yang Mengendalikan Arah Skateboarding?

Jika skateboarding sepenuhnya diserahkan pada logika industri, maka ia akan jadi produk musiman. Dipakai, diperas, lalu ditinggal.

Tapi jika komunitas tetap memegang peran—meski kecil, meski pelan—skateboarding akan tetap hidup sebagai kultur.

Bukan karena ia laku dijual, tapi karena ia masih dijalani.

Dan mungkin, di situlah letak perlawanan paling sunyi dari skateboarding hari ini.

 


 

Comments