Kenapa Daya Beli Skateboard di Indonesia Lagi Turun?

 


Beberapa tahun terakhir, banyak pelaku industri skateboard di Indonesia—mulai dari brand, skateshop, sampai komunitas—merasakan hal yang sama:

Padahal kalau lihat dari luar, skate scene masih hidup. Skatepark masih rame, event tetap jalan, konten skate masih berseliweran di media sosial. Lalu pertanyaannya: kenapa daya beli justru terasa turun?

Artikel ini mencoba merangkum data, tren konsumen, dan kondisi pasar skateboard di Indonesia dengan bahasa yang santai dan mudah dipahami.


Skateboard Global Naik, Lokal Kok Terasa Turun?

Secara global, industri skateboard sebenarnya masih tumbuh stabil. Di banyak negara, skateboard sudah bukan cuma olahraga, tapi juga bagian dari lifestyle, fashion, dan pop culture.

Namun kondisi ini tidak selalu lurus dengan apa yang terjadi di Indonesia. Di sini, skateboard masih masuk kategori barang non‑pokok. Artinya, saat ekonomi lagi ketat, skateboard jadi salah satu hal pertama yang dikorbankan dari daftar belanja.


Harga Skateboard di Indonesia: Rentangnya Lebar Banget

Kalau kita lihat pasar Indonesia sekarang, harga skateboard bisa dibagi jadi tiga lapisan besar:

  • Skateboard budget / murah
    Kisaran Rp110.000 – Rp350.000. Biasanya banyak ditemukan di marketplace, dipakai pemula, atau pembeli yang sekadar coba‑coba.

  • Skateboard lokal kelas menengah
    Kisaran Rp500.000 – Rp950.000. Ini biasanya target core skater, pekerja muda, atau konsumen yang cari kualitas tapi masih masuk akal secara harga.

  • Skateboard premium / import
    Di atas Rp1.200.000. Pasarnya jauh lebih kecil, biasanya kolektor, skater senior, atau yang loyal ke brand tertentu.

Masalahnya, mayoritas konsumen sekarang condong ke pilihan paling murah. Bahkan skater yang sudah main lama pun banyak yang menunda upgrade gear.


Siapa Sebenarnya Konsumen Skateboard di Indonesia?

Kalau ditarik garis besar, konsumen skateboard di Indonesia bisa dibagi jadi beberapa tipe:

1. Price‑Sensitive Buyer (Paling Banyak)

Pelajar, mahasiswa, dan anak muda dengan uang terbatas. Sangat sensitif soal harga. Kalau ada opsi lebih murah, hampir pasti dipilih.

2. Value Seeker

Biasanya pekerja muda. Mereka masih mau beli produk lokal atau mid‑range, tapi harus terasa worth it. Kualitas, desain, dan cerita brand jadi pertimbangan.

3. Lifestyle & Culture Driven

Skateboard sebagai identitas. Mereka beli bukan cuma karena fungsi, tapi karena sense of belonging ke scene. Sayangnya, segmen ini relatif kecil dan paling terdampak saat ekonomi lagi seret.


Estimasi Pasar Skateboard di Indonesia (Angka Kasar)

Memang belum ada data resmi soal jumlah skateboarder aktif di Indonesia. Tapi dengan pendekatan dari jumlah skateshop yang ada (sekitar 15 toko offline dan 50‑an toko online aktif), kita bisa bikin gambaran kasar.

Jika satu skateshop melayani sekitar 500–2.000 pembeli unik per tahun, maka:

  • Total pembeli skateboard per tahun: sekitar 5.000 – 10.000 orang

  • Total unit skateboard terjual per tahun: di kisaran yang sama

Distribusinya kira‑kira seperti ini:

  • 50% skateboard murah

  • 35% skateboard kelas menengah

  • 15% skateboard premium

Angka ini menjelaskan kenapa brand di kelas menengah paling kerasa tekanannya: pembeli makin turun ke segmen murah, sementara segmen premium memang kecil dari awal.


Jadi, Kenapa Daya Beli Turun?

Ada beberapa faktor utama yang saling nyambung:

1. Kondisi Ekonomi Bikin Orang Ngerem Belanja

Saat kebutuhan pokok makin mahal, otomatis budget buat hobi dan lifestyle dikurangi. Skateboard termasuk yang paling gampang ditunda.

2. Downtrading: Dari “Pengen Bagus” Jadi “Yang Penting Murah”

Banyak konsumen yang dulunya beli deck mid‑range, sekarang turun kelas ke produk lebih murah, atau bahkan beli second.

3. Serbuan Produk Murah di Marketplace

Produk skateboard super murah bikin standar harga di kepala konsumen turun. Akibatnya, produk lokal yang jujur secara kualitas sering dianggap “kemahalan”.

4. Skateboard = Passion, Bukan Kebutuhan

Skateboard hidup dari passion dan kultur. Sayangnya, saat ekonomi lagi berat, passion sering kalah sama kebutuhan sehari‑hari.


Dampaknya ke Brand & Skateshop

  • Perputaran barang lebih lambat

  • Konsumen makin jarang beli impulsif

  • Margin makin tipis karena perang harga

  • Brand dituntut lebih kreatif, bukan cuma produksi

Ini bukan cuma soal jualan, tapi soal bagaimana bertahan di kondisi pasar yang berubah.


Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

Beberapa pendekatan yang mulai relevan di kondisi sekarang:

  • Fokus ke value, bukan sekadar murah

  • Perkuat cerita brand & kedekatan dengan komunitas

  • Aktivasi offline di skatepark dan event kecil

  • Bundling produk (deck + apparel, atau paket pemula)

  • Edukasi konsumen soal kualitas dan proses


Penutup

Penurunan daya beli di industri skateboard Indonesia bukan berarti skena mati. Justru ini fase seleksi alam: brand yang adaptif, jujur, dan dekat dengan komunitas akan tetap hidup.

Skateboarding di Indonesia selalu lahir dari bawah, dari jalanan, dari komunitas. Dan seperti biasanya, scene ini mungkin melambat—tapi tidak akan benar‑benar hilang.

Yang berubah cuma satu: cara kita bertahan dan bergerak ke depan.

 


 

Comments