Home article city connection event news Jalanan Tidak Pernah Berhenti Menjadi Rumah: Wrath the Street Vol.1 Jakarta
Home article city connection event news Jalanan Tidak Pernah Berhenti Menjadi Rumah: Wrath the Street Vol.1 Jakarta

Jalanan Tidak Pernah Berhenti Menjadi Rumah: Wrath the Street Vol.1 Jakarta


 

Tentang kolektif brand-brand skateboard lokal yang memilih kembali ke jalan, membangun ruangnya sendiri, dan mengingatkan bahwa street skateboarding selalu lahir dari keberanian untuk memanfaatkan ruang publik.

Ada satu hal yang selalu menarik dari skateboarding, di saat banyak olahraga dibangun di dalam arena yang telah disiapkan, skateboard justru lahir dari cara pandang yang berbeda. Ia tidak menunggu ruang dibuatkan. Ia belajar melihat kemungkinan dari ruang yang sudah ada.

Sebuah tangga menjadi tantangan, ledge berubah menjadi permainan serta trotoar menjadi garis yang ingin dilalui dan kota, perlahan, berubah menjadi taman bermain.


 

Mungkin karena itu pula, hubungan antara skateboard dan ruang publik tidak pernah benar-benar bisa dipisahkan. Jalanan bukan hanya tempat bermain. Ia adalah tempat skateboard belajar tumbuh, bertemu, bertukar cerita, hingga membangun identitasnya sendiri.

Di Jakarta, salah satu ruang itu adalah Bundaran Senayan, bagi sebagian orang, ia hanyalah sudut kota yang dipenuhi pekerja kantor dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar sepi. Namun bagi banyak skateboarder, tempat itu menyimpan sejarah yang jauh lebih panjang. Ledge, drop berundak, dan permukaan kayunya telah menjadi saksi ribuan percobaan, jatuh, bangkit, hingga trick yang kemudian hidup di dalam video-video skate Indonesia.

Karena itu, ketika Wrath The Street Vol. I memilih Bundaran Senayan sebagai lokasi acaranya, rasanya pilihan itu bukan sekadar soal mencari spot yang menarik.

Ada pesan yang jauh lebih besar. Mereka sedang kembali ke rumah.

Wrath The Street lahir bukan dari sebuah promotor besar. Ia bukan pula proyek yang dibangun oleh satu perusahaan. Event ini merupakan hasil kolektif dari skate shop, brand-brand skateboard lokal, dan komunitas yang memilih bekerja bersama demi satu tujuan yang sama: mengembalikan street skateboarding ke ruang publik, tempat di mana kultur ini sejak awal bertumbuh. 


 

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

"Kembali memanfaatkan ruang publik sebagai tempat berkumpul dan berkarya."

Namun semakin lama dipikirkan, semakin terasa bahwa kalimat tersebut sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah kompetisi, ia berbicara tentang hak untuk berkumpul.

Tentang keberanian menciptakan ruang, tentang keyakinan bahwa sebuah komunitas tidak harus selalu menunggu panggung disediakan oleh orang lain. Jika ruang itu belum ada, mereka akan membangunnya sendiri dan malam itu, mereka benar-benar melakukannya.

Obstacle-obstacle yang berdiri di Bundaran Senayan bukan hanya rangkaian besi dan kayu. High Ollie Challenge, Long Barrier, Pole Jam Long Rail, hingga Big Down Ledge yang terinspirasi dari obstacle legendaris di spot tersebut bukan sekadar tantangan teknis, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah sebuah tempat yang telah memberi begitu banyak cerita kepada skateboard Indonesia.

Namun ada satu hal lain yang menurut kami jauh lebih menarik daripada obstacle yang dibangun hari itu, hampir seluruh orang yang membuat acara ini berjalan adalah skateboarder.

Brand yang mendukungnya dijalankan oleh skateboarder, skate shop yang terlibat dimiliki oleh skateboarder, MC yang memandu jalannya acara adalah skateboarder. Fotografer yang berlari dari satu obstacle ke obstacle lain adalah skateboarder, Videografer yang terus mencari angle terbaik juga skateboarder.

Bahkan orang-orang yang sejak sore sibuk mengangkat obstacle, mengatur jalannya challenge, memastikan semuanya tetap berjalan dengan aman, adalah mereka yang selama bertahun-tahun tumbuh bersama kultur ini.

Di situlah kami merasa Wrath The Street berbeda, acara ini bukan hanya dibuat untuk skateboarder.

Ia dibuat oleh skateboarder.

 


 

Di tengah industri yang semakin kompleks, ketika sebuah event sering kali membutuhkan banyak pihak agar dapat terlaksana, melihat sebuah acara yang nyaris seluruh elemennya dikerjakan oleh orang-orang dari dalam scene sendiri terasa seperti pengingat akan akar skateboarding itu sendiri.

Do It Yourself. Bukan karena menolak bantuan dari luar, melainkan karena masih percaya bahwa komunitas memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri, semangat seperti ini sesungguhnya bukan hal baru. Di berbagai belahan dunia, skateboarding selalu bertahan karena orang-orang yang bersedia melakukan pekerjaan yang sering kali tidak terlihat. Ada yang membuat papan. Ada yang membuka skate shop. Ada yang mendokumentasikan. Ada yang menjadi filmer. Ada yang mengajar anak-anak bermain skateboard. Ada yang sekadar datang lebih pagi untuk membantu memasang obstacle sebelum acara dimulai.

Mereka mungkin tidak selalu berdiri di depan kamera namun tanpa mereka, banyak cerita tidak akan pernah terjadi. Wrath The Street menjadi pengingat bahwa semangat itu masih ada dan mungkin, justru semakin penting untuk terus dijaga.

Di era ketika hampir semua hal diukur melalui angka atau jumlah penonton, jumlah sponsor, jumlah tayangan, acara seperti ini menunjukkan ukuran keberhasilan yang berbeda. Berapa banyak orang yang bersedia bekerja bersama tanpa harus menjadi pusat perhatian? Berapa banyak brand yang rela duduk di meja yang sama demi kepentingan yang lebih besar daripada logonya sendiri? Berapa banyak skateboarder yang masih percaya bahwa membangun ruang bersama sama pentingnya dengan mendaratkan trick baru?


 

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang kami lihat sepanjang hari di Bundaran Senayan. Wrath The Street memang baru memasuki volume pertamanya, namun jika semangat kolektif seperti ini terus dijaga, mungkin yang sedang dibangun bukan hanya sebuah event tahunan, melainkan tradisi baru.

Tradisi bahwa skateboard tidak selalu harus menunggu ruang untuk diberikan, ia bisa menciptakan ruangnya sendiri. Karena pada akhirnya, jalanan tidak pernah benar-benar kehilangan maknanya bagi skateboard.

Ia bukan sekadar hamparan aspal yang dilalui kendaraan setiap hari, ia adalah tempat orang-orang pertama kali belajar jatuh. Belajar bangkit. Belajar berteman. Belajar berbagi.

Dan sesekali, mengingatkan kita bahwa rumah tidak selalu berbentuk bangunan. Kadang, rumah hanyalah sebuah sudut kota yang dipenuhi suara roda polyurethane, tawa yang bersahutan, dan sekelompok orang yang memilih bekerja bersama agar kultur yang mereka cintai tetap memiliki tempat untuk pulang.

 

Photo: Boris Yoga 


 

 

Comments

You May Also Like