Home article event interview news Melihat Skateboarding Day dari Balik Kamera Gregorius Aldwin
Home article event interview news Melihat Skateboarding Day dari Balik Kamera Gregorius Aldwin

Melihat Skateboarding Day dari Balik Kamera Gregorius Aldwin


 

Setiap tahun, Go Skateboarding Day selalu menghadirkan cerita yang berbeda.

Ada trick yang berhasil setelah percobaan berkali-kali. Ada bails yang mengundang tawa bersama. Ada wajah-wajah lama yang kembali bertemu setelah sekian waktu. Ada juga generasi baru yang untuk pertama kalinya merasakan bagaimana rasanya berada di tengah ratusan skateboarder yang bergerak ke arah yang sama.

Namun di tengah semua keseruan itu, sering kali ada satu kelompok yang luput dari perhatian.

Mereka yang berdiri di pinggir obstacle. Berjalan mondar-mandir mencari sudut terbaik. Berjongkok di antara kerumunan. Atau justru berlari mengejar momen yang mungkin hanya terjadi dalam sepersekian detik.

Para dokumentator.

Karena ketika sebuah event berakhir, yang tersisa bukan hanya kenangan bagi mereka yang hadir, tetapi juga arsip yang memungkinkan orang lain ikut merasakan suasana hari itu. Dan di dalam skateboarding, arsip bukan sekadar dokumentasi. Ia adalah bagian dari sejarah.


 

 

Pada Jakarta Skateboarding Day 2026, salah satu sosok yang berada di balik arsip tersebut adalah Gregorius Aldwin.

Bagi sebagian orang, nama Aldwin mungkin lebih dulu dikenal sebagai skateboarder. Bertahun-tahun berada di dalam scene membuatnya memahami ritme yang sering kali sulit dijelaskan kepada orang luar. Ia tahu kapan sebuah trick sedang dibangun. Ia tahu bagaimana kerumunan bereaksi ketika seseorang hampir berhasil. Ia tahu bahwa tidak semua momen penting terjadi tepat saat roda menyentuh tanah.

Mungkin itulah yang membuat foto-fotonya terasa berbeda.

Di antara ratusan skateboarder yang memadati kawasan Bundaran HI dan sekitarnya, kamera Aldwin tidak hanya menangkap trick. Ia juga menangkap orang-orang yang menyaksikannya. Anak kecil yang baru mengenal skateboard. Wajah-wajah yang berdiri di balik pagar pembatas. Kerumunan yang memenuhi jembatan penyeberangan. Hingga momen-momen kecil yang sering luput dari perhatian, tetapi justru membentuk pengalaman sebuah perayaan.

Karena pada akhirnya, Skateboarding Day bukan hanya tentang siapa yang berhasil mendaratkan trick terbaik hari itu.

Ia juga tentang siapa saja yang hadir, tentang orang-orang yang meluangkan waktu untuk berkumpul, tentang komunitas yang terus tumbuh dan tentang sebuah kultur yang setiap tahunnya menemukan alasan baru untuk dirayakan.

Melalui wawancara ini, Connection Surface mengajak Gregorius Aldwin berbicara tentang perjalanannya di balik kamera, cara pandangnya terhadap skateboarding hari ini, dan bagaimana rasanya mendokumentasikan salah satu perayaan skateboard terbesar di Indonesia dari sudut yang jarang mendapat sorotan.

 

1. Kapan pertama kali merasa kamera mulai menarik perhatianmu sebesar skateboard?

Mungkin awalnya si uda cukup lama banget, karena sebelum punya kamera pun cuma bermodal hape kadang emang suka foto-fotoin beberapa moment yang menurut gw yang gw suka, dan bulan juni 2025 gue diajak kerja sama temen yang bernama Ramski, dia salah satu photogrpaher yang gokil lah, nah disitu gw cuma bantu-bantu atur lampu meski gak seberapa ngerti, namanya juga newbie hehehhe, nah waktu ada momen tertentu gue liat modelnya lagi pose-pose dan gue iseng pake hape buat foto-fotoin modelnya juga, nah disitu dah mulai ada rasa yg timbul, asekk hheheh. Gue kasi tunjuk hasil-hasilnya ke temen gue dan temen gue bilang "mantep juga lu", dan akhirnya gue disuruh jadi bagian org BTS aja. cerita singkatnya begitu.


2. Apakah memotret awalnya hanya dokumentasi session atau memang sejak awal ingin serius?

Awalnya gak ada kepikiran untuk serius, cuma iseng aja, apa yang gw liat itu bagus ya pasti gw abadikan. Cuma namanya waktu terus berjalan dan hidup mulai banyak tanggungan ya akhirnya selain skate gw coba cari celah lain untuk mendapatkan uang, yaa akhirnya sekarang mencoba serius di bidang photography ini.

 


 


3. Apa yang membuatmu tetap dekat dengan skateboarding meskipun kini lebih sering berada di balik kamera?

Pastinya si gue selalu inget, gue bisa sampe dititik ini itu karena skate dan skate itu banyak ngajarin gw, salah satunya dengan punya sudut pandang yang berbeda saat melihat objek atau peka terhadap sekitar.


4. Dari semua momen yang kamu lihat di Jakarta Skateboarding Day 2026, apa yang paling membekas?

Yang dulunya cuma ikutan rayain, sekarang gue bisa abadiin keseruan skateday ditahun ini, apalagi bisa motoin para skateboarder yang berkumpul di bundaran HI.

 


 


5. Ketika memilih momen untuk dipotret, apa yang biasanya kamu cari? Trick, ekspresi, atau cerita di baliknya?

Kalau gue si pastinya cari momen yang gak bisa diulang lagi, karena motret yang di direct itu masi bisa disetting tp kalo yg spontan dan tanpa di direct itu lebih berarti, karena belum tentu terulang dan bakal sama lagi.


6. Dari sudut pandang fotografer, apa yang berbeda dari Skateboarding Day tahun ini dibanding beberapa tahun lalu?

Tahun ini si para photographer yang bukan anak skate sudah mulai banyak mau abadiin momen-momen dan mungkin sekalian mencari experience baru buat mereka, karena kemarin pas gue motret, gw liat sekitar gue banyak banget photographer atau videogrpaher yang berebutan buat nangkep skateday tahun ini, beberpaa tahun lalu si ada cuma gak serame tahun ini sih. 


7. Kamu sudah melihat beberapa generasi skateboarder datang dan pergi. Apa yang menurutmu berubah dari scene hari ini?

Mungkin mereka pergi karena bukan berarti mereka benci skate, tapi mereka harus merelakan apa yang mereka suka karena banyak hal, salah satunya bertahan hidup, bukan berarti skateborder-skateboarder yang generasi lama uda gak kompak atau nggak mau peduli lagi terhadap scene skate sekarang, cuma ya regenerasi itu pasti terjadi, yang gue harap si generasi sekarang lebih kompak dan bikin skate makin meledak lagi.


 

8. Apa hal yang masih membuatmu optimis terhadap skateboard Indonesia?

Cuma berharap skate lebih di terima lagi sama banyak orang dan juga pemerintahan, karena banyak bibit-bibit yang jago-jago, berharap atlit emang bener-bener diperhatiin dan di jaga, jangan muncul cuma waktu mereka mengharumkan nama indonesia aja, tp bantu dan bener" disupport" 


9. Menurutmu siapa yang lebih penting dalam sebuah scene: mereka yang bermain atau mereka yang mendokumentasikan?

Menurutku ku dua-duanya pasti penting, kalo kita jago tapi gak ada yg dokumentasiin ya mereka yg jago gak mungkin terlihat, jadi menurutku kita semua mempunyai peran penting sih. 

 


 


10. Apa foto favoritmu dari Skateboarding Day kemarin dan kenapa?

Foto favorite si di Bundaran HI, gue suka karena, dari foto itu kita bisa liat raut muka mereka yang seneng saat ngerayain skateday bareng-barang, ya lumayan bikin merinding lah heeheh.


11. Apakah ada momen yang tidak berhasil kamu abadikan tapi masih teringat sampai sekarang?

Waktu Basral Graito ngelakuin combo trick di spot STC si, gak bisa disebut triknya karena dirahasiakan cuma itu salah satu momen yg mayan bikin gw kesel ehhehe.


12. Jika suatu hari nanti orang melihat arsip foto-fotomu 20 tahun dari sekarang, apa yang ingin mereka rasakan?

Gue berharap mereka bisa tersenyum, karena dr senyuman itu berarti mereka bisa menyimpulkan banyak arti cuma dr sebuah foto.


13. Apa yang masih membuatmu terus membawa kamera ke session? 

Cuma pengen belajar dan belajar dan mau menangkap momen" yg belum tentu bisa terulang.

 



Comments

You May Also Like