Showing posts with the label featured

Posts

Jakarta Under Siege: Tentang Musik, Memori, dan Orang-Orang yang Kembali Bertemu

  Ada banyak alasan orang datang ke sebuah pertunjukan musik. Sebagian datang karena ingin melihat band favoritnya. Sebagian datang karena penasaran dengan band yang selama ini hanya mereka lihat melalui layar. Sebagian lainnya datang tanpa ekspektasi khusus, hanya ingin berada di tengah keramaian yang terasa akrab. Jakarta Under Siege 2026 mungkin menjadi tempat bagi semua alasan itu untuk bertemu. Tahun ini, Jakarta Under Siege kembali menghadirkan kombinasi lineup yang menarik. Nama-nama seperti Haywire, ZIP, The End, Outrage, Karmax, Pleazure and Pain, Alice, hingga Grrrl Gang berdiri dalam satu poster yang sama. Jika dilihat sekilas, susunan ini terasa tidak biasa. Ada hardcore, ada punk, ada Oi!, ada alternatif, dan ada spektrum musik yang mungkin tidak selalu berbagi panggung dalam acara yang sama. Tapi justru di situlah menariknya. Jakarta Under Siege terasa tidak sedang berusaha menyenangkan satu kelompok tertentu. Ia justru membuka ruang pertemuan bagi berbagai lapisa...

Jakarta Extreme Sports present SilaturahMIX Vol.02: Tiga Kultur, Satu Arena

  Di banyak tempat, skateboard, BMX, dan aggressive inline sering berjalan di jalurnya masing-masing. Mereka tumbuh dari kultur jalanan yang mirip, menggunakan ruang yang sama, dan sama-sama lahir dari semangat untuk bermain di luar batas olahraga konvensional. Tapi dalam praktiknya, ketiga disiplin ini tidak selalu benar-benar dipertemukan dalam satu energi yang utuh. Karena itu, ada sesuatu yang terasa hangat dari SilaturahMIX Vol.02. Event yang digagas oleh Jakarta Extreme Sports ini terasa lebih dari sekadar agenda kompetisi. Ia seperti ruang temu. Tempat di mana skateboarder, rider BMX, dan aggressive inline bisa hadir dalam satu arena tanpa sekat yang terlalu kaku. Tidak ada rasa paling dominan. Tidak ada disiplin yang mencoba berdiri lebih tinggi dari yang lain. Semuanya datang membawa energi masing-masing, lalu bercampur begitu saja secara alami. Di tengah banyaknya event yang sekarang terasa terlalu fokus pada kompetisi dan hasil akhir, SilaturahMIX justru terasa lebih ...

Kita mungkin tidak pernah merasa dekat dengan politik, perang atau keadaan ekonomi negara. Sampai suatu hari hal itu semua mulai terasa di bawah kaki sendiri.

Tentang dollar, perang, industri yang pelan-pelan tertekan, dan skateboarder yang mungkin baru mulai sadar.   Beberapa tahun terakhir, banyak skateboarder mulai terbiasa melihat harga yang terus naik. Awalnya mungkin cuma terasa di sepatu. Lalu deck. Lalu truck. Lama-lama hampir semua parts terasa semakin jauh dari kata murah. Dan seperti biasa, kebanyakan dari kita cuma bereaksi sebentar: “Anjir mahal banget sekarang.”   Habis itu lanjut main lagi... Padahal kalau dipikir-pikir, ada sesuatu yang sebenarnya sedang terjadi cukup besar di belakang semua itu. Dan jujur saja, skateboarder memang bukan kelompok yang terkenal dekat dengan isu ekonomi atau politik. Banyak dari kita lebih peduli spot baru dibanding berita dunia. Lebih hafal video part dibanding situasi pasar global. Itu bukan salah. Skateboarding memang sejak awal tumbuh sebagai ruang pelarian dari hal-hal seperti itu. Tapi masalahnya, cepat atau lambat, keadaan dunia tetap datang mengetuk pintu scene kita juga, kar...

Agar Scene Tetap Layak Disebut Rumah : Refleksi tentang tanggung jawab, keamanan, dan solidaritas di dalam kultur yang kita cintai

  Skateboarding sering kita sebut sebagai rumah. Bukan karena ia memiliki dinding atau atap, tapi karena di dalamnya ada rasa diterima, ada pertemanan, ada proses tumbuh bersama. Banyak dari kita menemukan identitas, keberanian, bahkan arah hidup melalui papan dan ruang-ruang kecil yang kita sebut scene. Dari skatepark, emperan ruko, sampai tongkrongan setelah sesi sore. Di sana kita belajar jatuh, bangkit, tertawa, dan saling mengenal. Namun rumah, sehangat apa pun ia terasa, tetap membutuhkan penjagaan. Belakangan ini, kabar yang beredar di luar sana mengingatkan kita pada satu hal yang mungkin jarang dibicarakan secara terbuka: bahwa tidak ada ruang yang otomatis aman hanya karena ia bernama komunitas. Dan di situlah refleksi perlu dimulai. Scene Tidak Kebal dari Masalah Sering kali kita merasa scene adalah tempat yang berbeda dari “dunia luar”. Lebih cair, lebih bebas, lebih inklusif. Nilai-nilai seperti solidaritas, kebersamaan, dan saling dukung selalu kita gaungkan....

Menjaga Ruang Kita: Skate Shop Day dan Peran Skateshop dalam Industri Skateboard Indonesia

Setiap budaya punya tempat berkumpulnya sendiri: kafe untuk musisi, studio untuk seniman, lapangan untuk pesepakbola. Bagi skateboarder, ruang itu sering kali bukan sekadar lokasi fisik — tetapi skate shop . Dan setiap 21 Februari , komunitas skateboard global bersama-sama merayakan hari yang disebut Skate Shop Day sebagai penghormatan terhadap ruang sosial ini. Skate Shop Day bukan sekadar agenda komersial. Ia lahir dari penghormatan terhadap hub budaya — tempat di mana skater pertama kali melihat video, memilih papan pertama, berbagi cerita, dan bertemu teman baru. Ia adalah hari yang dimaksudkan untuk menginjak kaki ke dalam toko yang telah menjadi tempat berkumpul selama 365 hari lainnya , sebagai bentuk dukungan nyata atas peran mereka dalam menjaga kultur ini tetap hidup. Apa Itu Skate Shop Day? Skate Shop Day pertama kali digagas pada tahun 2020 oleh dua sahabat  Scotty Coats dan Chris Nieratko . yang dibentuk oleh kecintaan mereka terhadap skateboarding dan musi...

Tidak Semua Sepatu Bisa Digunakan untuk Skateboarding

  Membaca Ulang Fungsi, Kebutuhan, dan Batas antara Gaya dan Alat Skateboarding tidak pernah benar-benar soal gaya semata. Di balik visual yang terlihat bebas, ada repetisi jatuh, gesekan, benturan, dan kontrol tubuh yang konstan. Karena itu, hampir setiap elemen dalam skateboarding—mulai dari papan, truck, hingga sepatu—lahir dari kebutuhan, bukan sekadar estetika. Namun, seiring meluasnya skate culture ke ranah lifestyle, satu pertanyaan menjadi semakin relevan untuk dibahas ulang: apakah semua sepatu yang terlihat “skate” benar-benar bisa digunakan untuk skateboarding? Artikel ini tidak bertujuan membatasi atau menghakimi pilihan siapa pun. Ini adalah upaya untuk membedakan fungsi dan gaya—dua hal yang sering terlihat serupa, tetapi bekerja dengan tuntutan yang sangat berbeda.

Fotografi skateboard di antara digital, analog, dan kesediaan untuk hadir.

  Interview bersama Boris Yoga / __okahhh     Boris Yoga tinggal dan bekerja di Jakarta. Ia memotret skateboard dengan pendekatan yang tidak pernah terburu-buru, berpindah antara medium digital dan analog. Gear yang ia gunakan hari ini adalah Sony A7R II dan Nikon F3—dua kamera dengan ritme yang sangat berbeda, namun justru memperjelas cara pandangnya terhadap momen, proses, dan kehadiran. Alih-alih datang dari ambisi menjadi fotografer skate, Yoga berada di balik kamera karena kebetulan. Kamera selalu ikut ke mana pun ia pergi—termasuk saat bermain skateboard atau sekadar mengecek spot. Dari situ, fotografi tumbuh pelan-pelan: dari suasana jalanan, nongkrong bersama teman, hingga akhirnya memotret trick. Tidak ada batas kaku antara mana yang “layak” difoto dan mana yang tidak. Selama ada rasa ingin menangkapnya, kamera akan bekerja.   1. Kapan dan dari titik mana lo mulai memotret skateboarding? Bukan momen pentingnya, tapi apa yang bikin lo milih berada di balik k...