Connection Surface
publisher
Search Blog
Hit enter to search or ESC to close
Trending Now
Jalan Panjang: A skateboard travelogue documentary series - CHAPTER 1 (INTRODUCTION)
- Get link
- X
- Other Apps
CLICKBITE: Sebuah Perayaan Energi dari 22 skateboarders video by Ikram Irhamna
- Get link
- X
- Other Apps
MASS SINGAPORE 2024 FULL EVENT RECAP
- Get link
- X
- Other Apps
Ada banyak alasan orang datang ke sebuah pertunjukan musik.
Sebagian datang karena ingin melihat band favoritnya. Sebagian datang karena penasaran dengan band yang selama ini hanya mereka lihat melalui layar. Sebagian lainnya datang tanpa ekspektasi khusus, hanya ingin berada di tengah keramaian yang terasa akrab.
Jakarta Under Siege 2026 mungkin menjadi tempat bagi semua alasan itu untuk bertemu.
Tahun ini, Jakarta Under Siege kembali menghadirkan kombinasi lineup yang menarik. Nama-nama seperti Haywire, ZIP, The End, Outrage, Karmax, Pleazure and Pain, Alice, hingga Grrrl Gang berdiri dalam satu poster yang sama. Jika dilihat sekilas, susunan ini terasa tidak biasa. Ada hardcore, ada punk, ada Oi!, ada alternatif, dan ada spektrum musik yang mungkin tidak selalu berbagi panggung dalam acara yang sama. Tapi justru di situlah menariknya.
Jakarta Under Siege terasa tidak sedang berusaha menyenangkan satu kelompok tertentu. Ia justru membuka ruang pertemuan bagi berbagai lapisan kultur yang selama ini tumbuh berdampingan.
Jujur saja, ada banyak orang yang datang karena Haywire. Kehadiran mereka sebagai salah satu nama internasional terbesar dalam lineup tentu menjadi daya tarik utama. Namun bagi sebagian orang lain, malam itu juga menjadi kesempatan untuk kembali bertemu dengan suara-suara yang pernah mengisi masa muda mereka.
Salah satunya adalah The End.
Band yang sudah lama menjadi bagian dari kultur skinhead dan Oi! di Indonesia itu bukan sekadar nama dalam susunan lineup. Bagi banyak orang, The End adalah bagian dari memori. Bagian dari masa ketika musik didengarkan melalui CD, file MP3 yang dibagikan dari teman ke teman, atau diputar berulang kali dalam perjalanan menuju spot skate, gigs, atau tongkrongan.
Mungkin karena itulah ketika mereka naik ke atas panggung, yang terasa bukan hanya pertunjukan musik. Ada lapisan nostalgia yang ikut bergerak bersama setiap lagu.
Salah satu momen yang paling membekas malam itu terjadi ketika The End berkolaborasi dengan Haywire membawakan The Impression That I Get milik The Mighty Mighty Bosstones. Sebuah lagu yang bagi banyak orang sudah menjadi bagian dari sejarah panjang kultur alternatif. Melihat musisi dari latar yang berbeda berdiri dalam satu panggung untuk memainkan lagu yang sama terasa seperti simbol kecil tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi sepanjang malam itu: pertemuan.
Tidak lama setelahnya, momen lain muncul ketika Haywire memainkan Sweet Caroline milik Neil Diamond.
Mungkin bagi orang yang tidak berada di sana, ini terdengar sederhana. Hanya sebuah lagu cover yang dimainkan di tengah set. Tapi ketika satu ruangan penuh orang ikut bernyanyi bersama, lagu itu berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi milik satu generasi, satu negara, atau satu genre tertentu. Ia menjadi milik semua orang yang hadir malam itu.
Dan mungkin itulah salah satu kekuatan terbesar musik. Ia mampu membuat orang-orang yang tidak saling mengenal merasa dekat selama beberapa menit. Namun seperti banyak acara yang baik, yang paling membekas justru tidak selalu terjadi di atas panggung, yang paling menarik malam itu adalah melihat siapa saja yang berdiri di depannya.
Ada wajah-wajah yang sudah puluhan tahun berada di skena. Ada generasi yang tumbuh bersama era awal hardcore, punk, dan skinhead Indonesia. Ada juga anak-anak muda yang mungkin baru beberapa tahun mengenal semuanya. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, referensi berbeda, dan pengalaman berbeda.
Tapi malam itu mereka berdiri dalam ruangan yang sama. Bernyanyi pada lagu yang sama. Berteriak pada bagian yang sama dan bergerak dalam energi yang sama.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh algoritma, preferensi, dan identitas kelompok, pemandangan seperti itu terasa semakin berharga. Jakarta Under Siege mengingatkan bahwa kultur tidak selalu tumbuh dari kesamaan. Kadang ia tumbuh dari kesediaan untuk berbagi ruang.
Mungkin itulah yang membuat acara seperti ini terasa penting, bukan semata karena siapa yang bermain, Bukan semata karena siapa yang menjadi headliner. Tapi karena ia berhasil menciptakan situasi di mana orang-orang yang mungkin tidak akan bertemu dalam kehidupan sehari-hari bisa berada dalam satu ruangan, menikmati sesuatu yang sama, dan pulang dengan cerita yang berbeda-beda.
Pada akhirnya, Jakarta Under Siege bukan hanya tentang musik keras, moshpit, atau lineup internasional. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap konser, selalu ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertunjukan.
Ada memori yang dibawa masuk ke dalam venue.
Ada pertemanan yang kembali dipertemukan.
Ada generasi yang saling melihat satu sama lain.
Dan ada kultur yang terus menemukan cara untuk bertahan, tumbuh, dan mempertemukan orang-orangnya kembali. Setidaknya untuk satu malam, Jakarta Under Siege berhasil melakukan itu.
You May Also Like
MAIN PAGE a video by VAST Attitude
- Get link
- X
- Other Apps
BEAZT Present "SAMBATAN" Sulistumo Part a Video by Bramantyabayu
- Get link
- X
- Other Apps
HN85 a video by Mazini Hafizhuddin
- Get link
- X
- Other Apps
METAMORPHOSIS a skateboard video part by Teklanica
- Get link
- X
- Other Apps



Comments
Post a Comment