Agar Scene Tetap Layak Disebut Rumah : Refleksi tentang tanggung jawab, keamanan, dan solidaritas di dalam kultur yang kita cintai

 


Skateboarding sering kita sebut sebagai rumah.
Bukan karena ia memiliki dinding atau atap, tapi karena di dalamnya ada rasa diterima, ada pertemanan, ada proses tumbuh bersama.

Banyak dari kita menemukan identitas, keberanian, bahkan arah hidup melalui papan dan ruang-ruang kecil yang kita sebut scene. Dari skatepark, emperan ruko, sampai tongkrongan setelah sesi sore. Di sana kita belajar jatuh, bangkit, tertawa, dan saling mengenal.

Namun rumah, sehangat apa pun ia terasa, tetap membutuhkan penjagaan.

Belakangan ini, kabar yang beredar di luar sana mengingatkan kita pada satu hal yang mungkin jarang dibicarakan secara terbuka:
bahwa tidak ada ruang yang otomatis aman hanya karena ia bernama komunitas.

Dan di situlah refleksi perlu dimulai.


Scene Tidak Kebal dari Masalah

Sering kali kita merasa scene adalah tempat yang berbeda dari “dunia luar”. Lebih cair, lebih bebas, lebih inklusif. Nilai-nilai seperti solidaritas, kebersamaan, dan saling dukung selalu kita gaungkan.

Namun kebebasan tanpa kesadaran bisa berubah menjadi kelengahan.

Skateboarding bukan ruang steril dari kekuasaan, ego, atau penyalahgunaan posisi. Selama ada manusia di dalamnya, selalu ada kemungkinan terjadinya ketimpangan, tekanan sosial, atau bahkan kekerasan.

Mengakui ini bukan berarti meruntuhkan kultur.
Justru sebaliknya — ini adalah langkah pertama untuk merawatnya.


Tentang Keamanan Perempuan di Scene

Isu keamanan perempuan bukan isu tambahan. Ini inti.

Selama bertahun-tahun, skateboarding didominasi laki-laki. Banyak perempuan yang masuk ke dalam scene harus beradaptasi dengan lingkungan yang tidak selalu ramah. Mereka sering kali:

  • Dipandang sebagai “tambahan”, bukan bagian setara

  • Diberi ruang yang terbatas

  • Menghadapi komentar atau perlakuan yang tidak pantas

  • Atau merasa tidak aman untuk berbicara ketika terjadi sesuatu

Jika kita benar-benar menyebut scene sebagai rumah, maka rumah itu harus aman untuk semua penghuninya — bukan hanya mayoritasnya.

Rasa aman bukan sekadar tidak ada kekerasan fisik.
Ia juga tentang:

  • Tidak adanya intimidasi

  • Tidak adanya relasi kuasa yang disalahgunakan

  • Tidak adanya pembiaran terhadap perilaku yang merendahkan

Perempuan di scene tidak membutuhkan perlindungan paternalistik.
Mereka membutuhkan sistem yang adil, respons yang tegas, dan solidaritas yang nyata.


Solidaritas Bukan Sekadar Hashtag

Di momen-momen ramai, kita sering melihat dukungan mengalir di media sosial. Namun solidaritas sejati diuji dalam tindakan kecil sehari-hari:

  • Berani menegur teman sendiri jika melewati batas

  • Tidak membungkam korban dengan dalih “jangan merusak nama baik scene”

  • Tidak menjadikan relasi atau reputasi sebagai tameng untuk menutup mata

  • Mendengarkan dengan serius ketika seseorang berbicara tentang pengalaman tidak menyenangkan

Kultur yang sehat bukan kultur yang tidak pernah punya masalah.
Kultur yang sehat adalah kultur yang berani menyelesaikan masalahnya.


Menjaga Tanpa Menghakimi

Penting untuk tidak berubah menjadi ruang yang gemar menghakimi. Kita bukan pengadilan. Namun kita juga bukan penonton pasif.

Menjaga scene berarti:

  • Memperjelas batas etika

  • Menghargai consent dalam setiap interaksi

  • Tidak menyalahgunakan posisi, popularitas, atau kekuasaan

  • Menciptakan lingkungan yang transparan dan terbuka

Batas bukan musuh kebebasan.
Batas adalah penjaga agar kebebasan tidak melukai orang lain.


Rumah Harus Bisa Dipercaya

Bayangkan seorang skater muda — laki-laki atau perempuan — yang baru masuk ke scene. Mereka datang dengan rasa penasaran, semangat, dan sedikit rasa takut. Mereka percaya bahwa tempat ini adalah ruang tumbuh.

Jika mereka justru menemukan intimidasi, pelecehan, atau pembiaran, maka yang rusak bukan hanya satu relasi. Yang rusak adalah kepercayaan.

Dan kepercayaan adalah fondasi rumah.

Tanpa itu, scene hanya menjadi kumpulan orang dengan papan. Bukan komunitas.

 

  


Tanggung Jawab Ada pada Kita

Tidak perlu menunggu organisasi besar, sponsor, atau figur publik untuk bergerak. Scene hidup dari individu-individu di dalamnya.

Tanggung jawab itu sederhana tapi tidak mudah:

  • Berani peduli

  • Berani bersuara

  • Berani menjaga satu sama lain

Karena pada akhirnya, skateboard mungkin hanya sepotong kayu dengan empat roda. Tapi nilai yang kita bangun di sekitarnya — itulah yang menentukan apakah ia sekadar hobi, atau sebuah kultur.


Agar Scene Tetap Layak Disebut Rumah

Kita semua mencintai skateboarding dengan cara masing-masing. Ada yang lewat kompetisi, ada yang lewat video, ada yang lewat brand, ada yang lewat tongkrongan sore.

Namun cinta pada kultur tidak cukup hanya dengan merayakan yang indah-indahnya. Ia juga berarti berani merawat yang rapuh.

Rumah bukan tempat yang sempurna.
Ia tempat yang dijaga.

Jika kita ingin scene ini tetap menjadi ruang yang hangat, inklusif, dan membanggakan — maka keamanan, terutama bagi perempuan dan mereka yang rentan, bukan tambahan. Itu fondasi.

Karena hanya ruang yang aman yang layak disebut rumah.

 


 

Comments