Skateboarding hari ini bergerak cepat. Terlalu cepat, mungkin. Video berdurasi pendek beredar di mana-mana, algoritma mendorong trick demi trick, dan semua terasa harus langsung terbukti. Di tengah arus itu, fotografi skateboard terlihat diam. Tidak hilang, tidak juga mati, ia menunggu. Menunggu momen yang tepat. Menunggu cahaya turun satu stop. Menunggu tubuh melayang pada jarak yang pas dari coping. Menunggu sesuatu yang tidak bisa dipercepat.
Fotografi skateboard selalu bekerja dengan cara yang berbeda.
Ia tidak mengejar kontinuitas, meski kadang menuntut landing sebagai bukti. Satu frame cukup untuk menyimpan ketegangan sebelum take-off, raut wajah setelah gagal, atau atmosfer spot yang tidak pernah muncul di video. Foto tidak menjelaskan apa yang terjadi; foto menyimpan bagaimana rasanya berada di sana.
Di Indonesia, kita bisa merasakan pergeseran ini dengan jelas. Jumlah orang yang ingin memvideokan skateboard bertambah, sementara mereka yang memilih memotret terasa makin sedikit. Bukan karena fotografi tak relevan, melainkan karena sistem hari ini lebih ramah pada gerak daripada diam. Lebih menghargai bukti daripada rasa.
Ini bukan pertentangan antara foto dan video.
Video penting, bahkan sangat penting dalam sejarah dan perkembangan skateboarding. Tapi fotografi punya peran lain yang tak tergantikan: ia membangun arsip. Ia menjadi penanda waktu. Ia mengikat memori kolektif yang suatu hari akan kita baca ulang. Banyak momen skateboarding yang hanya hidup karena fotografi. Cover majalah, zine fotokopian, poster event, hingga arsip personal yang berpindah tangan. Tanpa foto, sebagian besar sejarah akan larut, tak tercatat, dan tak bisa ditengok kembali.
Lalu kenapa fotografi terasa sepi?
Jawabannya sederhana dan rumit sekaligus. Fotografi membutuhkan jeda. Ia menuntut kehadiran penuh, kesabaran, dan penerimaan bahwa banyak momen akan terlewat. Di era serba cepat, jeda terasa mahal. Ditambah lagi, platform sosial hari ini tidak memberi ruang yang adil pada foto, terutama foto still yang membutuhkan waktu untuk dibaca.
Namun justru di situlah nilai fotografi skateboard berdiri. Ia tidak tunduk pada kecepatan. Ia memilih menunggu.
Menunggu bukan berarti tertinggal. Menunggu adalah sikap.
Di antara derasnya video, masih ada fotografer yang memilih berjalan pelan. Yang memilih mendengar suara shutter ketimbang notifikasi. Yang memahami bahwa satu frame yang tepat bisa lebih jujur daripada seratus detik yang bergerak.
Dan menariknya, sebagian dari mereka memilih medium yang bahkan lebih lambat: kamera analog. Bukan karena romantisasi masa lalu, dan bukan pula karena menolak kemajuan. Dalam skate photography, baik digital maupun analog, keduanya tetap relevan, bukan sebagai dua kutub yang saling meniadakan, tapi sebagai dua cara melihat yang berbeda.
Digital memberi ruang untuk respons cepat, eksplorasi tanpa takut gagal, dan distribusi yang luas. Ia memungkinkan lebih banyak orang hadir, lebih banyak momen terdokumentasi, dan lebih banyak cerita beredar. Sementara analog menawarkan hal yang lain: keterbatasan yang justru menajamkan kepekaan. Film terbatas. Kesalahan mahal. Proses panjang. Tidak ada preview. Semua keputusan diambil sebelum momen terjadi.
![]() |
| Tony Hawk Air Fakie Del Mar Skate Ranch Photograph 1984, Source jgrantbrittainphotos.com |
Keduanya sah. Keduanya penting.
Dan keduanya, pada akhirnya, bertemu di satu titik yang sama: keinginan untuk menangkap momen skateboard—bukan sekadar triknya, tapi suasananya.
Artikel ini tidak dimaksudkan untuk mengunggulkan satu medium di atas yang lain, atau menunjuk satu sosok sebagai representasi. Ia berdiri sebagai pembuka sebuah jeda untuk mengajak kita kembali memikirkan fotografi skateboard sebagai disiplin yang utuh, bukan pelengkap dari video atau sekadar dokumentasi.
Di tengah skateboarding yang terus bergerak, mungkin ada baiknya kita kembali memberi ruang untuk berhenti sejenak. Mengangkat kamera. Apa pun jenisnya. Dan mencoba memotret momen jatuh, menunggu, gagal, tertawa, hal-hal yang sering lolos karena tidak cukup cepat atau tidak cukup spektakuler.
Fotografi skateboard tidak meminta perhatian.
Ia hanya menawarkan cara lain untuk mengingat.
Dan barangkali, itu sudah lebih dari cukup.



Comments
Post a Comment