Ada masa ketika skateboard hadir tanpa tuntutan. Ia tidak meminta penjelasan, tidak menagih hasil, dan tidak memaksa siapa pun untuk menjadi sesuatu. Kita datang karena penasaran, bertahan karena senang, dan pergi—kalau pun pergi—tanpa merasa gagal. Bukan karena kita kurang ambisi, tapi karena ambisi bukan syarat untuk bermain.
Seri ini lahir dari satu kalimat sederhana:
bukan “dulu lebih enak”, melainkan “dulu kita tidak sibuk membuktikan apa-apa.”
Kalimat itu bukan penilaian moral. Ia adalah pintu untuk mengingat—dengan kepala dingin—bagaimana sebuah kultur pernah bernapas.
Ingatan bersama bukan tentang trik atau spot.
Ia tentang cara kita berada di sana. Datang tanpa agenda, jatuh tanpa dokumentasi, pulang tanpa laporan. Kita belajar pelan, meniru dari jarak dekat, dan tumbuh tanpa perbandingan yang konstan. Kesamaan referensi membuat kita merasa setara; bukan karena kemampuan sama, tetapi karena arah keinginannya serupa.
Ruang bernapas itu pernah ada karena banyak hal bertemu di waktu yang tepat.
Industri surf dan lifestyle menyediakan etalase, toko fisik, event kecil, dan imajinasi. Mereka bukan arsitek skena, tetapi penyangga. Tanpa menuntut skateboarding untuk “berguna”, mereka memberi waktu. Dan waktu—ternyata—adalah modal paling mahal untuk sebuah kultur muda.
Namun waktu bergerak. Ekosistem berubah. Dunia meminta kejelasan.
Skateboarding mulai diminta membuktikan diri.
Layak dilihat, layak didukung, layak diukur. Kamera menjadi kebiasaan, angka menjadi bahasa, dan kehadiran perlahan dihitung. Bukan karena niatnya jahat, melainkan karena logika zaman bekerja demikian. Dari aktivitas, skateboard beralih menjadi identitas; dari kebiasaan, menjadi pernyataan.
Di titik ini, pertanyaan penting muncul—bukan tentang siapa yang salah, melainkan apa yang kita korbankan.
Ketika segalanya harus terlihat, apa yang terjadi pada ruang untuk tidak jadi apa-apa? Ketika hasil lebih dihargai dari proses, ke mana perginya keberanian untuk bermain tanpa tujuan? Mungkin yang terkikis bukan kualitas, melainkan kelonggaran—ruang kecil yang dulu membuat banyak orang bertahan lama.
Artikel ini tidak mengajak kita mundur. Ia juga tidak memuja masa lalu.
Yang ditawarkan adalah pelajaran, bukan replika.
Apa yang hilang?
Rasa aman untuk hadir tanpa strategi.
Ruang untuk jatuh tanpa penonton.
Kesabaran untuk tumbuh tanpa pembuktian.
Apa yang berubah?
Cara kita memandang kehadiran—dari pengalaman menjadi performa.
Cara kita menilai nilai—dari kebersamaan menjadi visibilitas.
Cara kita memberi makna—dari proses menjadi hasil.
Apa yang bisa dipelajari, bukan diulang?
Bahwa kultur hidup dari waktu dan kepercayaan.
Bahwa tidak semua yang bernilai harus terukur.
Bahwa skateboard—pada intinya—adalah ruang bermain yang membentuk manusia, bukan sebaliknya.
Jika hari ini skateboarding berada di persimpangan, mungkin jawabannya bukan memilih satu sisi. Mungkin jawabannya adalah mengembalikan kelonggaran di antara tuntutan. Memberi ruang bagi yang serius dan yang santai. Menghargai yang terlihat dan yang diam. Mengizinkan orang datang tanpa harus membuktikan apa pun—setidaknya pada awalnya. Karena barangkali, yang membuat kita bertahan dulu bukan janji masa depan, melainkan izin untuk hadir apa adanya. Dan izin itu—kalau kita mau—masih bisa kita berikan satu sama lain hari ini.




Comments
Post a Comment