Ketika Skateboarding Tidak Sibuk Membuktikan Apa-Apa, Eps 3


 

Episode 3 — Saat Skateboarding Mulai Diminta Membuktikan Diri


Ada satu momen yang sulit ditentukan tanggalnya, tapi hampir semua dari kita bisa merasakannya. Momen ketika skateboard tidak lagi cukup hanya dimainkan. Ia mulai ditanya:

Untuk apa, mewakili siapa, menghasilkan apa.

Perubahannya tidak datang sebagai ledakan. Ia datang pelan, seperti kebiasaan baru yang awalnya terasa wajar. Video mulai diukur dengan angka. Gaya mulai dibandingkan. Kehadiran mulai dihitung. Skateboarding yang dulu hidup di sela-sela waktu luang, perlahan bergeser ke pusat perhatian—dan dari sana, tuntutan mulai tumbuh.

 

Di titik ini, skateboard mulai berubah fungsi.

Dari aktivitas menjadi identitas. Dari kebiasaan menjadi pernyataan. Dari ruang bermain menjadi panggung. Bukan perubahan yang sepenuhnya salah, tapi perubahan yang membawa konsekuensi.

Dulu, kita datang ke spot untuk bermain. Sekarang, sering kali kita datang untuk terlihat bermain. Bukan karena niatnya buruk, tapi karena dunia di sekitar kita ikut berubah. Kamera ada di mana-mana. Platform menunggu. Dan tanpa sadar, skateboard ikut masuk ke logika yang sama: performa, konsistensi, visibilitas.

 

Skateboarding mulai diminta membuktikan bahwa ia layak.

Layak diliput. Layak disponsori. Layak diakui. Layak disebut olahraga. Layak disebut profesi. Layak disebut konten. Setiap “layak” itu menambah satu lapisan beban yang dulu tidak pernah ada.

Di sinilah banyak dari kita mulai merasa asing di rumah sendiri. Bukan karena skateboarding berubah sepenuhnya, tapi karena cara kita berada di dalamnya berubah. Kita mulai berhitung. Mulai membandingkan. Mulai bertanya apakah kita cukup relevan, cukup jago, cukup konsisten.

 

Trotoar Jakarta sering dijadikan ajang uji "kelayakan" / photo courtessy: kumparan

 

 

Yang pelan-pelan hilang adalah ruang untuk tidak jadi apa-apa.

Ruang untuk datang telat, pulang cepat, main seadanya. Ruang untuk jatuh tanpa dokumentasi. Ruang untuk bosan tanpa rasa bersalah. Padahal, ruang-ruang kecil itulah yang dulu membuat banyak orang bertahan lama.

Bukan berarti generasi sekarang salah. Mereka hanya lahir di dunia yang berbeda. Dunia yang meminta bukti, bukan proses. Dunia yang menghargai hasil, bukan kehadiran. Skateboarding tidak kebal terhadap itu—ia hanya ikut beradaptasi.

 

Pertanyaannya bukan: siapa yang merusak?

Pertanyaannya lebih jujur:

apa yang kita korbankan ketika semuanya harus dibuktikan?

Mungkin yang hilang bukan skill, bukan kualitas, bukan kreativitas. Mungkin yang hilang adalah keberanian untuk bermain tanpa tujuan. Untuk hadir tanpa strategi. Untuk mencintai sesuatu tanpa harus menjelaskannya.

Episode ini tidak mengajak kita mundur. Ia hanya mengajak berhenti sejenak. Mengingat bahwa skateboarding pernah memberi kita ruang untuk bernapas—tanpa penilaian, tanpa target, tanpa tekanan.

Dan dari sini, kita sampai pada pertanyaan yang akan menjadi penutup rangkaian ini: apa yang bisa kita pelajari dari masa itu, tanpa mencoba mengulangnya?

 


 

Comments