Ketika Skateboarding Tidak Sibuk Membuktikan Apa-Apa, Eps 2



Episode 2 — Ruang Bernapas Bernama Industri


Kalau kita tarik ingatan sedikit lebih jauh, ada satu hal yang sering luput dibicarakan ketika mengenang skateboarding Indonesia di awal 2000-an: kenapa semua itu bisa hidup cukup lama, cukup ramai, dan terasa stabil? 

Jawabannya bukan karena skena sudah rapi, bukan juga karena organisasi kuat. Justru sebaliknya—banyak hal berjalan seadanya. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada satu penopang yang jarang disebut secara jujur:  

industri surf dan lifestyle yang saat itu sedang sangat sehat.

 

Brand-brand seperti Quiksilver, Billabong, Rusty, Volcom, dan kawan-kawannya bukan sekadar menjual baju.

Mereka menjual imajinasi: hidup dekat pantai, bebas, anti-kantoran, dan sedikit nakal tapi tetap rapi. Skateboarding ikut hidup di dalam imajinasi itu, meski tidak selalu disebut secara eksplisit.

Di banyak kota, toko-toko surf menjadi tempat pertama kita melihat papan skateboard yang “terlihat benar”. Bukan mainan, bukan tiruan. Kadang mahal, kadang cuma bisa dilihat dari etalase, tapi kehadirannya memberi satu pesan penting: ini nyata, ini ada, dan ini mungkin.

 

Industri surf tidak membangun skena skateboard. Tapi mereka memberi ruang bernapas.

Ruang itu hadir dalam bentuk toko fisik, event kecil, sponsor kaos, sampai video yang diputar di televisi toko. Semua itu membuat skateboarding bisa tumbuh tanpa harus menjelaskan dirinya sendiri ke publik luas.

Pada masa itu, skateboard tidak dituntut untuk “berguna”. Ia tidak harus berprestasi. Tidak harus masuk kurikulum. Tidak harus punya output yang jelas. Ia cukup eksis sebagai bagian dari gaya hidup alternatif yang sedang naik daun.

 

Contoh poster event Volcom Wild in the Park 2008

 

Dan justru karena itu, skateboard terasa aman untuk dijalani.

Tidak ada tekanan ekonomi di pundaknya. Tidak ada tuntutan moral. Tidak ada narasi besar yang harus diemban. Anak-anak bisa datang dan pergi, jatuh cinta lalu bosan, tanpa merasa bersalah atau gagal.

Namun, penting untuk jujur:  

ketergantungan ini juga rapuh.

Ketika industri surf mulai goyah—entah karena perubahan tren, krisis ekonomi global, atau pergeseran pasar—ruang bernapas itu perlahan menyempit. Toko tutup, event berkurang, sponsor menghilang. Dan skateboarding harus berdiri lebih mandiri, tanpa sempat benar-benar diajari caranya.

 

Photo courtessy Volcom Indonesia

 

Dititik inilah kita mulai melihat pergeseran.

Skateboarding yang dulu dibiarkan tumbuh liar, perlahan diminta untuk lebih “jelas”. Lebih terdefinisi. Lebih bisa dipertanggungjawabkan. Dan mungkin, tanpa kita sadari, di situlah beban mulai muncul. Episode ini bukan tuduhan terhadap industri surf. Tanpa mereka, banyak dari kita mungkin tidak pernah mengenal skateboard sama sekali. Tapi penting untuk memahami bahwa masa “emas” itu berdiri di atas ekosistem yang bukan sepenuhnya milik skateboarding sendiri.

 

Di episode berikutnya, kita akan masuk ke inti yang paling sensitif: apa yang terjadi ketika skateboard mulai diminta membuktikan dirinya? Ketika ia tidak lagi cukup sebagai aktivitas, tapi harus menjadi identitas, prestasi, bahkan konten.

 


 

Comments