Ketika Skateboarding Tidak Sibuk Membuktikan Apa-Apa, Eps 1


 

Episode 1 — Ingatan Bersama 


Ada masa di mana skateboard bukan sesuatu yang perlu dijelaskan. Kita tidak ditanya tujuannya apa, tidak perlu pembenaran kenapa memilih papan ketimbang bola, dan tidak merasa harus terlihat “jadi sesuatu”. Kita hanya tahu: papan ini kelihatan seru, dan entah kenapa rasanya ingin ikut.

Di awal 2000-an, keinginan itu muncul hampir bersamaan di banyak tempat. Dari kota besar sampai pinggiran, dari halaman sekolah sampai parkiran ruko, selalu ada satu anak yang datang membawa papan, lalu besoknya dua, lalu seminggu kemudian sudah cukup ramai untuk disebut nongkrong. Tidak ada rencana besar. Tidak ada visi. Tapi semua terasa hidup.

 

Yang menarik, hampir semua dari kita punya referensi yang mirip.

Video game yang sama, majalah yang sama, video yang diputar berulang-ulang, kaos dengan logo yang terasa “jauh” tapi ingin sekali dimiliki. Kita mengenal skateboarding bukan dari algoritma, tapi dari fotokopi, dari pinjaman kaset, dari cerita mulut ke mulut. Informasi datang pelan, tapi justru itu yang membuatnya membekas.

 

Waktu itu, skateboard terasa seperti pintu masuk ke dunia lain. Dunia yang tidak menjanjikan apa-apa, tapi menawarkan rasa kebebasan yang aneh. Kita tidak bicara soal karier, exposure, atau masa depan. Kita bicara soal trik pertama yang hampir jadi, sepatu yang cepat jebol, dan spot yang baru ketahuan bisa dipakai.

 


 

 

Semua orang ingin bermain skateboard, tapi tidak semua ingin menjadi “skater”.

Dan di situ justru letak kesehatannya. Tidak ada tekanan untuk terlihat paling jago, paling beda, atau paling berisik. Ada yang serius latihan, ada yang cuma nongkrong dan dorong-dorong papan. Semuanya diterima, selama hadir. Di masa itu, skateboard belum punya beban. Ia belum dijadikan identitas yang harus dipertahankan, belum ditarik ke mana-mana untuk mewakili sesuatu. Ia sekadar aktivitas yang menyenangkan, dan itu sudah cukup.

 


 

 

Kalau kita jujur, mungkin yang kita rindukan bukan triknya, bukan spotnya, bahkan bukan orang-orangnya.

Yang kita rindukan adalah rasa ketika tidak ada yang harus dibuktikan. Tidak ada audiens yang perlu diyakinkan. Tidak ada angka yang perlu dikejar. Tidak ada posisi yang harus dijaga.

Kita datang, jatuh, ketawa, pulang. Besok datang lagi.

Dan mungkin, tanpa sadar, itu adalah fondasi paling kuat yang pernah dimiliki skateboarding Indonesia: rasa memiliki bersama tanpa perlu mengklaim apa pun.  Episode ini bukan ajakan untuk kembali ke masa lalu. Ini hanya upaya untuk mengingat, bahwa pernah ada masa di mana kita semua memulai dari titik yang hampir sama — rasa penasaran dan keinginan untuk bermain.

 

 

Di episode berikutnya, kita akan bicara tentang hal yang jarang disadari tapi sangat menentukan: bagaimana industri surf, toko fisik, dan kultur gaya hidup saat itu diam-diam menjadi penyangga ekonomi yang membuat semua ini bisa tumbuh tanpa terasa dipaksa.

 


 


 

Comments