Ada masa ketika skateboard dikenal publik lewat video berdurasi panjang, zine fotokopian, DVD yang diputar ulang di skateshop, dan cerita dari mulut ke mulut. Proses jatuh, bangun, gagal, dan mencoba lagi adalah bagian yang tak terpisahkan dari narasi skateboard.
Hari ini, skateboard sering muncul dalam bentuk yang jauh lebih ringkas: potongan 15–30 detik di layar ponsel. Cepat, menghibur, mudah dibagikan. Dan di situlah pertanyaan penting muncul: apa yang hilang ketika skateboard dipadatkan menjadi konten?
Media Skate: Dulu Minim, Kini Melimpah
Indonesia tidak pernah benar-benar kaya media skateboard. Justru karena itu, skateboard tumbuh dengan cara yang organik—mengandalkan komunitas, dokumentasi mandiri, dan usaha kolektif.
Kini situasinya berbalik. Media bukan lagi masalah utama. Yang berlimpah adalah konten. Setiap hari, algoritma menyajikan skateboard dalam bentuk yang seragam: cepat, ringan, dan sering kali tanpa konteks.
Bukan berarti ini sepenuhnya buruk. Tapi kelimpahan ini membawa konsekuensi kultural yang jarang dibahas.
Selebgram Skate dan Logika Algoritma
Selebgram skateboard lahir bukan dari skena, tapi dari sistem. Algoritma menyukai:
durasi singkat
visual jelas
reaksi instan
konsistensi unggahan
Dalam sistem ini, skateboard yang kompleks dan penuh proses harus menyesuaikan diri agar tetap terlihat. Trik dipotong, proses dihilangkan, dan konteks diringkas. Yang tersisa adalah hasil akhir—bukan perjalanan.
Ketika Konten Mengalahkan Proses
Masalahnya bukan pada trik sederhana atau gaya santai. Masalahnya adalah hilangnya narasi usaha. Skateboarding bukan hanya soal berhasil mendarat, tapi tentang "Berapa kali gagal, siapa yang menemani, di mana proses itu terjadi" Ketika semua itu hilang, skateboard terlihat mudah, instan, dan dangkal. Ini menciptakan persepsi yang keliru, terutama bagi pemula.
Apakah Selebgram Skate Diperlukan?
Manurut kami jawabannya: ya, namun dalam batas tertentu. Selebgram skate berfungsi sebagai pintu masuk bagi audiens baru juga menjadi jembatan antara skateboard dan publik luas serta pengingat bahwa skateboard masih relevan.
Masalah muncul ketika mereka menjadi representasi utama skateboarding, tanpa diimbangi media yang lebih dalam. Saat seseorang menyematkan gelar "selebgram" baik diakui oleh publik atau mengakui dirinya sendiri secara otomatis mereka memiliki tanggung jawab sosial.
Representasi Tanpa Tanggung Jawab
Tidak semua selebgram skate bermasalah. Tapi sebagian besar tidak memiliki keterikatan struktural dengan skena.
Beberapa hanya:
mengambil estetika skateboard
membangun personal brand
memonetisasi atensi
Tanpa:
mendukung brand lokal
hadir di event komunitas
mengarahkan audiens ke skateshop
Ini menciptakan relasi satu arah: skateboarding memberi, tapi tidak menerima kembali.
Dampak ke Ekosistem Skate Lokal
Dampaknya tidak langsung, tapi terasa:
Pemula mengenal skateboard sebagai hiburan, bukan kultur
Brand lokal kalah ruang dari personal branding
Skateshop kehilangan peran edukatif
Media skate mendalam semakin terpinggirkan
Skateboarding tetap terlihat hidup, tapi kehidupannya menjadi dangkal.
Selebgram Bukan Musuh, Tapi Bukan Tujuan
Masalah ini bukan soal siapa yang salah. Ini soal keseimbangan.
Selebgram seharusnya menjadi:
pintu masuk
bukan puncak representasi
Mereka bisa berperan positif jika:
mengarahkan audiens ke komunitas
memberi konteks pada konten
menyadari pengaruh yang mereka miliki
Skateboarding Lebih Besar dari Konten
Skateboarding tidak lahir untuk algoritma. Ia lahir dari jalanan, dari kebersamaan, dari proses panjang yang tidak selalu menarik secara visual.
Konten bisa membantu skateboard bertahan di era digital. Tapi ketika konten menjadi tujuan, skateboarding kehilangan kedalamannya.
Pertanyaannya bukan lagi apakah selebgram skate diperlukan, tapi:
siapa yang mengontrol narasi skateboard hari ini—komunitas, atau algoritma?



Comments
Post a Comment