Skateboarding di Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan yang rumit. Di satu sisi, akses semakin terbuka: skateboard bisa dibeli dengan harga yang sangat murah, bahkan hanya ratusan ribu rupiah. Di sisi lain, industri skateboard lokal justru merasakan tekanan yang semakin berat. Banyak brand lokal, skateshop, dan pelaku skena mengeluhkan hal yang sama: daya beli menurun, ekosistem melemah, dan nilai skateboard makin kabur.
Salah satu faktor yang jarang dibahas secara serius adalah maraknya blank deck murah tanpa identitas. Bukan karena papan ini tidak bisa dipakai, tetapi karena ia berdiri di luar ekosistem skateboarding itu sendiri.
Artikel ini mencoba membongkar persoalan tersebut—tanpa menghakimi pemakai, tapi dengan berani mengkritisi sistem yang membiarkannya tumbuh tanpa arah.
Blank Deck: Murah, Anonim, dan Tanpa Jejak
Blank deck di kisaran harga Rp110.000 – Rp300.000 kini mudah ditemukan di marketplace. Ia dijual sebagai papan skateboard tanpa brand, tanpa cerita, tanpa asal-usul yang jelas.
Pertanyaan sederhananya adalah:
siapa yang memproduksi papan ini?
Sebagian besar blank deck:
tidak mencantumkan produsen
tidak menjelaskan standar bahan dan press
jikalau menjelaskan bahan, biasanya terlihat to good to be true, contoh: kayu impor USA, 7 lapis canadian maple, dimana standar bahan tersebut tidak sebanding dengan harga (bohong).
tidak punya pihak yang bisa dimintai tanggung jawab
Secara fungsi, sebagian papan ini mungkin masih bisa dipakai. Tapi secara industri, ia adalah produk anonim yang hidup dari kekosongan regulasi dan literasi.
Uang yang Tidak Pernah Kembali ke Skena
Inilah titik paling krusial.
Brand skateboard lokal—sekecil apa pun—hidup dari skena:
mensponsori skater
membuat video
mendukung event
menjaga skateshop tetap relevan
membangun kultur, bukan sekadar menjual produk
Blank deck tidak melakukan itu.
Keuntungan dari penjualannya:
tidak kembali ke komunitas
tidak membiayai regenerasi skater
tidak membangun apa pun selain angka penjualan
Dalam konteks ini, blank deck bukan sekadar produk murah—ia adalah model bisnis ekstraktif.
Persaingan yang Tidak Setara
Masalah lain muncul ketika blank deck dibandingkan langsung dengan deck brand lokal.
Di mata konsumen awam:
blank deck Rp250 ribu
deck brand lokal Rp600–700 ribu
Perbandingan ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya timpang.
Yang satu membawa:
identitas
tim
kontribusi
visi jangka panjang
Yang lain hanya membawa:
harga
Ketika keduanya ditempatkan di etalase yang sama tanpa konteks, yang kalah bukan hanya brand—tapi seluruh ekosistem skate lokal.
Marketplace dan Normalisasi Anonimitas
Marketplace berperan besar dalam menormalisasi kondisi ini.
Semua produk dilabeli sama: skateboard.
Tidak ada pembeda antara:
deck untuk skater
deck untuk mainan
deck tanpa identitas
Algoritma mendorong harga termurah, bukan nilai paling relevan. Akibatnya, produk anonim lebih cepat naik ke permukaan dibanding brand yang membangun skena secara organik.
Ini bukan kesalahan konsumen sepenuhnya—ini adalah masalah sistemik.
Dampak Jangka Panjang ke Industri Lokal
Jika dibiarkan, kondisi ini akan menghasilkan:
Brand lokal sulit tumbuh karena margin tergerus
Skateshop kehilangan relevansi
Skater muda tumbuh tanpa koneksi ke skena
Skateboarding direduksi menjadi barang murah tanpa nilai budaya
Dalam jangka panjang, skateboard mungkin tetap laku—tapi skateboarding sebagai kultur akan melemah.
Ini Bukan Soal Melarang, Tapi Menyadarkan
Artikel ini tidak menyerukan pelarangan blank deck.
Yang dibutuhkan adalah:
literasi
transparansi
keberpihakan pada ekosistem
Menggunakan blank deck bukan dosa. Tapi menormalisasi pasar tanpa identitas adalah masalah serius.
Sadarlah Industri... Skateboarding Bukan Sekadar Produk
Skateboarding tumbuh karena komunitas, bukan karena marketplace.
Jika kita ingin industri skateboard Indonesia bertahan:
uang harus kembali ke skena
produk harus punya identitas
harga harus dibaca bersama konteks
Blank deck murah bukan satu-satunya masalah.
Tapi ketika ia mendominasi tanpa kontribusi, yang tergerus bukan hanya brand—melainkan masa depan skateboarding itu sendiri.


Comments
Post a Comment